TUGAS AGAMA
ADIL DAN RIDA
DISUSUN OLEH
TAUFIK HIDAYAT
XII ATP 4
SMKN 1 PASIR PENYU
TA 2013/2014
1. Adil
1.1. Pengertian Adil
Adil menurut bahasa Arab disebut dengan kata ‘adilun, yang
berarti samadengan seimbang.Menurut kamus besar bahasa Indonesia, adalah
diartikan tidak berat sebelah,tidak memihak,berpihak pada yang benar,berpegang
pada kebenaran, sepatutnya, dan tidak sewenang-wenang. Dan menurut ilmu akhlak
ialah meletakan sesuatu pada tempatnya, memberikan atau menerima sesuatu sesuai
haknya, dan menghukum yang jahat sesuai haknya, dan menghukumyang jahat sesuai
dan kesalahan dan pelanggaranya.
1.2. Karakteristik Sikap Adil
Islam mengajarkan bahwa semua orang mendapat perlakuan yang
sama dan sederajat dalam hukum. Dalam islam , tidak ada diskriminasi hukum
karena perbedaan kulit, status social, ekonomi,atau politik .
Berikut ini beberapa contoh sikap adil dalam Al-Qur’an :
· Adil terhadap diri sendiri.
· Adil terhadap istri dan anak
· Adil dalam mendamaikan perselisihan
· Adil dalam bertuturkata
· Adil terhadap musuh sekalipun
1.3. Nilai Positif Sikap Adil
Keadilan merupakan sesuatu yang bernilai tinggi, baik, dan
mulia. Apabila keadilan diwujudkan dalam kehidupan pribadi, keluarga,
masyarakat, serta bangsa dan Negara, sudah tentu ketinggian, kebaikan, dan
kemuliaan akan diraih. Jika seseorang mampu mewujudkn keadilan dalam
dirinyasendiri, tentu akan meraih keberhasilan dalam hidupnya, memperoleh
kegembiraan batin, disenangi banyak orang, dapat meningkatkan kualitas diri,
dan memperoleh kesejahteraan hidup duniawi serta ukkhrawi (akhirat).
Jika keadilan dapat diwujudkan dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, akan terwujud masyarakat yang
aman,tentra , serta damai sejahtera lahir dan batin. Hal ini disebabkan
masing-masing anggota masyarakat melaksanakan kewajiban terhadap orang lain dan
akan memenuhi hak orang lain dengan seadil-adilnya .
Keuntungan dari bersikap adil adalah :
1. Mereka yang bersikap adil akan mendapat
keamanan di dunia dan akhirat
2. Apabila orang adil yang berkuasa, maka
keadilan akan memelihara kekuasaannya
3. Mendapat keridhaan dari Allah SWT
4. Mereka yang bersikap adil tidak akan menzalimi
sesama manusia
5. Mereka yang bersikap adil akan mendapatkan
posisi yang tinggi di dunia maupun akhirat
6. Keadilan merupakan jalan menuju surge
1.4. Membiasakan
Sikap Adil
Seorang hendaknya membiasakan diri berlaku adil, baik
terhadap dirinya,kedua orang tua nya,saudara-saudaranya,anak-anaknya,
teman-temannya, tetangganya, masyarakatnya, bangsa dan Negaranya, maupun
terhadap sang Khalik(Alloh swt).
Apabila keadilan itu ditegakan dalam setiap aspek kehidupan,
tentu keamanan, ketentraman,kedamaian, serta kesejahteraan lahir dan batin,
duniawi dan ukhrawi akan dapat diraih.
Orang yang adil
biasanya memiliki sifat seperti :
1. Mempunyai iman yang kukuh dan bertakwa kepada
Allah SWT
2. Menguasai ilmu syariat dan ilmu Aqilah
3. Melakasankan amanah dengan penuh tanggung
jawab
4. Ikhlas dan bertakwa kepada Allah SWT
5. Memiliki pribadi yang mulai ( tidak mementingkan
diri sendiri, memiliki belas kasihan, bijak/tegas dan berani mengambil resiko
2. Rida
2.1. Pengertian rida
Perkataan rida berasal dari bahasa arab,
radiya yang artinya senang hati (rela). Rida menurut syariah adalah menerima
dengan senang hati atas segala yang diberikan Allah swt, baik berupa hokum
(peraturan-peraturan) maupun ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan-Nya.
Sikap rida harus ditunjukkan, baik ketika menerima nikmat maupun tatkala
ditimpa musibah.
Kebanyakan manusia merasa sukar atau gelisah
ketika menerima keadaan yang menimpa dirinya, seperti kemiskinan, kerugian,
kehilangan barang, pangkat, kedudukan, kematian anggota keluarganya, dan
lain-lain, kecuali orang yang mempunyai sifat rida terhadap takdir. Orang yang
memiliki sifat rida tidak mudah bimbang atau kecewa atas pengorbanan yang
dilakukannya. Ia tidak menyesal dengan kehidupan yang diberikan Allah swt dan
tidak iri hati atas kelebihan yang didapat orang lain karena yakin bahwa semua
itu berasal dari Allah swt. Sedangkan kewajibannya adalah berusaha atau
berikhtiar dengan kemampuan yang ada.
Rida terhadap takdir bukan berarti menyerah
atau pasrah tanpa usaha lebih dulu untuk mencari jalan keluarnya. Menyerah dan
berputus asa tidak dibenarkan oleh tatanan hidup dan tidak dibenarkan pula oleh
ajaran Islam. Allah swt. memberikan cobaan atau ujian dalam rangka menguji
keimanan dan ketakwaan hamba-Nya. Firman Allah swt.:
Artinya : “ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu,
dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.
dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (156) (yaitu)
orang-orang yangapabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna
lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan
kepada-Nya-lah Kami kembali. kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan
kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik
besar maupun kecil.(Q.S. Al Baqarah:155-156).
Sikap rida dapat ditunjukkan melalui hal-hal
sebagai berikut:
1. Sabar dalam melaksanakan kewajiban hingga
selesai dengan kesungguhan usaha atau ikhtiar dan penuh tanggung jawab.
2. Senantiasa mengingat Allah swt. dan tetap
melaksanakan shalat dengan kusyuk.
3. Tidak iri hati atas kekurangan atau kelebihan
orang lain dan tidak ria untuk dikagumi hasil usahanya.
4. Senantiasa bersyukur atau berterima kasih
kepada Allah swt. atas segala nikmat pemberian-Nya. Hal itu adalah upaya untuk
mencapai tingkat tertinggi dalam perbaikan akhlak.
5. Tetap beramal saleh (berbuat baik) kepada
sesama sesuai dengan keadaan dan kemampuan, seperti aktif dalam kegiatan
social, kerja bakti, dan membantu orangtua di rumah dalam menyelesaikan
pekerjaan mereka.
6. Menunjukkan kerelaan atau rida terhadap diri
sendiri dan Tuhannya. Juga rida terhadap kehidupan terhadap takdir yang
berbentuk nikmat maupun musibah, dan terhadap perolehan rezeki atau karunia
Allah swt.
Menurut kamus besar Indonesia, rida diartikan rela, suka,
dan senang hati.sedangkan menurut bahasa adalah ketetapan hati untuk menerima
segala keputusan yang sudah ditetapkan dan ridha merupakan akhir dari semua
keinginan dan harapan yang baik .
2.2 Karakteristik sikap rida
Apabila sebagian pendapat para ahli hikmah, rida
dikelompokan menjadi tiga tingkatan, yaitu rida kepada Alloh, rido pada apa
yang datang dari Alloh, dan rida pada qada Alloh.
Rida
kepada Allah adalah fardu ain.Rida pada apa yang datang dari Allah meskipun
merupakan sesuatu yang sangat luhur, hal ini termasuk ubudiah yang sangat mulia.
Sesungguhnya pilihan tuhan untuk hamba-Nya dibagi dua macam
yaitu pertama, ikhtiyar ad-din wa syar’I (pilihan keagamaan dan syariat).kedua,
ikhtiyar kauni kadari (pilihan yang berkenaan dengan alam dan takdir).Takdir
yang tidak dicintai dan diridai Alloh yaitu perbuatan aib dan dosa-dosa.
Macam-macam
rida :
a. Ridha terhadap perintah dan larangan Allah
Artinya ridha untuk mentaati Allah dan Rasulnya. Pada
hakekatnya seseorang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat, dapat
diartikan sebagai pernyataan ridha terhadap semua nilai dan syari’ah Islam.
Perhatikan firman Allah dalam Q.S. al-Bayyinah (98) ayat 8
Artinya
: Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha
terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. Yang demikian itu adalah
(balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (Q.S.al-Bayyinah ayat 8 )
Dari ayat tersebut dapat dihayati, jika kita ridha terhadap
perintah Allah maka Allah pun ridha terhadap kita.
b. Ridha terhadap taqdir Allah.
Mari kita simak, apa yang dikisahkan berikut ; pada suatu
hari Ali bin Abi Thalib r.a. melihat Ady bin Hatim bermuram durja, maka Ali
bertanya ; “Mengapa engkau tampak bersedih hati ?”. Ady menjawab ; “Bagaimana
aku tidak bersedih hati, dua orang anakku terbunuh dan mataku tercongkel dalam
pertempuran”. Ali terdiam haru, kemudian berkata, “Wahai Ady, barang siapa
ridha terhadap taqdir Allah swt. maka taqdir itu tetap berlaku atasnya dan dia
mendapatkan pahalaNya, dan barang siapa tidak ridha terhadap taqdirNya maka hal
itupun tetap berlaku atasnya, dan terhapus amalnya”.
Ada dua sikap utama bagi seseorang ketika dia tertimpa
sesuatu yang tidak diinginkan yaitu ridha dan sabar. Ridha merupakan keutamaan
yang dianjurkan, sedangkan sabar adalah keharusan dan kemestian yang perlu
dilakukan oleh seorang muslim.
Perbedaan antara sabar dan ridha adalah sabar merupakan
perilaku menahan nafsu dan mengekangnya dari kebencian, sekalipun menyakitkan
dan mengharap akan segera berlalunya musibah. Sedangkan ridha adalah kelapangan
jiwa dalam menerima taqdir Allah swt. Dan menjadikan ridha sendiri sebagai
penawarnya. Sebab didalam hatinya selalu tertanam sangkaan baik (Husnuzan)
terhadap sang Khaliq bagi orang yang ridha ujian adalah pembangkit semangat
untuk semakin dekat kepada Allah, dan semakin mengasyikkan dirinya untuk
bermusyahadah kepada Allah.
Dalam suatu kisah Abu Darda’, pernah melayat pada sebuah
keluarga, yang salah satu anggota keluarganya meninggal dunia. Keluarga itu
ridha dan tabah serta memuji Allah swt. Maka Abu Darda’ berkata kepada mereka.
“Engkau benar, sesungguhnya Allah swt. apabila memutuskan suatu perkara, maka
dia senang jika taqdirnya itu diterima dengan rela atau ridha.
Begitu tingginya keutamaan ridha, hingga ulama salaf
mengatakan, tidak akan tampak di akhirat derajat yang tertinggi daripada
orang-orang yang senantiasa ridha kepada Allah swt. dalam situasi apapun
(Hikmah, Republika, Senin 5 Februari 2007, Nomor: 032/Tahun ke 15)
c. Ridha terhadap perintah orang tua.
Ridha terhadap perintah orang tua merupakan salah satu
bentuk ketaatan kita kepada Allah swt. karena keridhaan Allah tergantung pada
keridhaan orang tua, perintah Allah dalam Q.S. Luqman (31) ayat 14 ;
Artinya
: “ Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang
ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang
bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan
kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Q.S. Luqman :14)
Bahkan Rasulullah bersabda : “Keridhaan Allah tergantung
keridhaan orang tua, dan murka Allah tergantung murka orang tua”. Begitulah
tingginya nilai ridha orang tua dalam kehidupan kita, sehingga untuk
mendapatkan keridhaan dari Allah, mempersyaratkan adanya keridhaan orang tua.
Ingatlah kisah Juraij, walaupun beliau ahli ibadah, ia mendapat murka Allah
karena ibunya tersinggung ketika ia tidak menghiraukan panggilan ibunya.
d. Ridha terhadap peraturan dan undang-undang negara
Mentaati peraturan yang belaku merupakan bagian dari ajaran
Islam dan merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah swt. karena dengan
demikian akan menjamin keteraturan dan ketertiban sosial. Mari kita hayati
firman Allah dalam Q.S. an-Nisa (4) ayat 59 berikut :
Artinya
: “ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan
ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang
sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya),
jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu
lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.( Q.S. an-Nisa :59)
Ulil Amri artinya orang-orang yang diberi kewenangan,
seperti ulama dan umara (Ulama dan pemerintah). Ulama dengan fatwa dan
nasehatnya sedangkan umara dengan peraturan dan perundang-undangan yang
berlaku.
Termasuk dalam ridha terhadap peraturan dan undang-undang
negara adalah ridha terhadap peraturan sekolah, karena dengan sikap demikian,
berarti membantu diri sendiri, orang tua, guru dan sekolah dalam mencapai
tujuan pendidikan. Dengan demikian mempersiapkan diri menjadi kader bangsa yang
tangguh.
2.3. Nilai Positif Sikap Rida
Rida merupakan kesadaran diri, perasaan jiwa, dan dorongan
hati yang menyebabkan seseorang berkenaan sepenuh hati untuk menerima apa yang
didapat ataupun yang dihadapi dengan penuh semangat dan rasa kasih sayang.
2.4. Membiasakan Sikap Rida
Konsekuensi rida kepada Alloh harus mengikuti semua yang
diajarkan oleh Rasululloh saw. (ittiba’ ar-Rasul). Apabila seorang rida kepada
Alloh, tentu dia akan selalu berusaha melakukan segala sesuatu yang diterima
dari-Nya dan meninggalkan segala sesuatu yang dibenci-Nya.
3. Amal Saleh
3.1. Pengertian Amal Saleh
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, amal diartikan sebagai
perbuatan (baik atau buruk). Secara istilah, amal saleh berarti perbuatan
sungguh- sungguh dalam menjalankan ibadah ataupun menunaikan kewajiban agama
yang dilakukan dalam bentuk berbuat kebaikan terhadap masyarakat atau sesama
manusia.contoh mengumpulkan dana untuk membantu korban bencana alam, penyandang
cacat, orang jompo dan anak yatim piatu.
Dalam al-Qur’an banyak dijumpai perkataan amal dengan
berbagai bentuknya yaitu ‘amila, a’mala, ta’malun, ya’malun, ‘amilun,
‘amalus-salihat, dan ‘amalus-syyari’at.
3.2. Karakteristik Amal Saleh
Orang yang hidup pada zaman pra-islam mempunyai anggapan
bahwa kekayaan, keturunan, kedudukan, dan bermacam-macam kelebihanduniawi
lainnya menjadi factor yang akan menentukan keadaan seseorang.
Agama islam membawa satu ajaran (dokrin) bahwa keturunan,
pangkat, kedudukan yang tinggi, dan kekayaan yang bayak , semua itu tidak
mendatangkan keuntungan, terutama untuk kehidupan di akhirat kelak.
Satu-satunya yang memberikan faedah ialah amal saleh, yakni perbuatan baik.
Secara
umum, pengelompokan amal itu terbagi dua, yaitu amal saleh (amal yang baik) dan
‘amalus sayyi’ah (amal yang buruk). Amal saleh ialah segala perbuatan
kebbijakan yang mendatangkan manfaat untuk diri sendiri, keluarga, bangsa, dan
manusia seluruhnya, baik berupa perbuatan, ucapan, maupun sikap.bahkan
melakukan suatu perbuatan yang dilarang Alloh, itu pun termasuk amal saleh.
3.3 Nilai Positif Amal Saleh
Dalam Al-Qur’an, banyak diuraikan hasil (buah) dari amal
saleh, baik didunia maupun diakhirat, yaitu:
a. rezeki yang baik (al-Hajj/22:50);
b. derajat yang tinggi (Taha/20:75);
c. keberuntungan (al-Qasas/28:67);
d. keadilan (Yunus/10:4);
e. keluar dari kegelapan (at-Talaq/65:11);
f. rahmat
dan cinta (al-Jasiyah/45:30);
g. hilang perasaan takut (Taha/20:112);
h. pahala yang cukup (Alli ‘Imran/3:57);
i. ampunanIlahi
(Fatir/3:57);
J. kehidupan di surga (al-Mu’minun/23:40).
3.4. Membiasakan Amal Saleh
Setiap amal saleh, harus didasari niat yang suci dan ikhlas.
Jangan sampai seorang yang beramal memiliki niat yang salah, ada udang dibalik
madu. Misasal, mengharap kedudukan,pujian, atau keuntungan yang lain-lain.
Berusaha atau beramal, pada umumnya tidak memandang ruang
dan waktu serta tidak hanya pada saat yang lapang. Dalam situasi apa pun, kita
tidak menyianyiakan untuk beramal atau berusaha. Walaupun hasil amal itu belum
tampak sekarang, hal itu tidak boleh menjadikan kita malas beramal.
4.Persatuan dan
kerukunan
4.1 Pengertian
Persatuan dan kerukunan
Pengertian Persatuan
ialah ikatan yang terjadi antara dua orang lebih yang mereka melakukan tidak
yang sama dalam hal terjadinya peristiwa tertentu. Bila seseorang suatu bangsa
maka rakyatnya akan bersatu membela bangssanya.
Dari penjelasan ayat
diatas diperoleh kesimpulan bahwa usaha umat Islam terutama para pemuka
(ulama/hakim/pejabat) supaya memperbaiki hubungan antara seseorang dengan
seseorang yang lain atau kelompok, golongan dengan golongan atau dengan
seseorang secara nyata, jangan membiarkan persengkataan atau perselisihan itu
berlarut-larut. Para umat tidak boleh berdiam diri asal badan sendiri selamat,
kita mesti berbuat, berusaha menghilangkan persengketaan, dan menghidupkan tali
persaudaraan antara orang-orang yang bersengketa itu.
Setiap muslim wajib
berusaha membangun kukuhnya persatuan dan kesatuan demi tegaknya agama,
masyarakat, bangsa dan negara. Hal itu dilakukan agar dapat meningkatkan
kesejahteraan bersama dengan cara yang bijaksana dan seadil-adilnya menurut
ketentuan Allah SWT. Agama islan adalah agama yang smepurna ajaran-ajarannya,
bukan hanya membimnbing manusia mengenal tuhan dan tata cara beribadah
kepadanya, tetapi juga memberi petunjuk bagaimana menyusun suatu masyarakat
agar tiap-tiap anggotanya dapat hidup rukun, aman dan nyaman, yakni
masing-masing hendakalah bertakwa. Allah melarang kita saling membelakangi,
suka mencari kesalahan orang lain, hasud, iri dan dengki lebih-lebih berbuat
aniaya yang dapat menimbulkan perselisihan diantara sesama.
Sahabat Anas bin Malik
meriwayatkan sebuah hadis yang artinya : “Tolonglah saudaramu dalam keadaan
menganiaya atau dianiaya. Saya bertanya. Wahai Rasululah, yang ini saya
menolongnya karena teraniaya. Bagaimana caranya menolong yang zalim?, Engkau
harus melarangnya dari kezaliman itulah cara menolongnya.” (HR Anas r.a)
Hadis tersebut memberi
penjelasan bahwa menjaga persatuan dan kesatuan itu mutlak diperlukan.
Terjadinya perbedaan pendapat, baik perorangan maupun kelompok adalah hal yang
wajar, karena setiap pribadi memang dianugrahi oelh Allah kemampuan berkreasi
dan penalaran yang berbeda-beda. Lebih-lebih para anak muda yang sedang mencari
jati dirinya, persaingan anatar individu atau kelompok sulit dihindari sehingga
tidak jarang berakhir dengan baku hantam. Dengan kondisi yang demikian,
hendaklah segera dibentuk juru damai, baik dari guru maupun pemuka masyarakat
agar masalah yang timbul tidak berlarut-larut. Perlu disadari bahwa mereka yang
terlibat perselisihan pada umumnya adalah teman kita sendiri, masih sebangsa
dan sering pula malah seiman. Maka penyelesaian dengan jalan kekerasan, jelas
hanya akan merugikan diri dan bangsa kita sendiri.
Selanjutnya dalam
usaha memperjuangkan kebajikan dan amal, janganlah merasa bahwa diri dan
kelompoknyalah yang pantas memperoleh bagian dan fasilitas yang lebih dari yang
lain. Sikap demikian amat berbahaya jika bersemayam di dada seorang muslim,
karena dapat merusak keikhlasan beramal. Hal yang demikian pernah menghinggapi
sebagian sahabat nabi seusai perang badar, kemudian oleh Allah dengan
firmannya.
Aritnya : “Mereka
menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah:
“Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul, oleh sebab itu bertakwalah
kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada
Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.” (QS Al
Anfal :1)
Ayat diatas memberi
dorongan kepada kaum muslimin agar siap memikul tanggung jawab berat melaksanakan
dakwah islamiyah secara terpadu, saling melengkapi sesuai dengan kemampuan
disiplin ilmu yang dikuasainya.
Dengan begitu, hal-hal
yang menyebabkan terjadinya persengketaan hendaknya dihindari. Unsur penting
perekat persatuan dan kesatuan umat ialah takwa, memperbaiki hubungan sesama
muslim, tolong menolong, bantu mambantu dengan manaati Allah dan rasulnya
disetiap keadaan.
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Setelah
memahami dan mempelajari materi aklaq terpuji ,kami dapat mengambil hikmah yang
begitu banyak, bahwa akhlaq terpuji itu dapat mendatangkan kebaikan baik di
dunia maupun di akhirat.
Materi
ini bukan hanya untuk di pelajari, namun di aplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari, karena dengannya kita akan mampu beribadah dan bermuamalah dengan
baik.Di akhirat kelak pun yang paling berat timbangannya adalah akhlaq terpuji.
Jadi akhlaq terpuji dengan adil,amal shaleh,ridha,persatuan dan kerukunan ini
adalah salah satu aspek agar kita mampu berbuat akhlaq mulia sesuai dengan
tuntunan Allah dan Rasull-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar